NgélMu – aNgél sadurungé keteMu

Rahasia Biodiesel, Solar Masa Depan

Posted by EG Giwangkara S pada Jumat, 28 Juli 2006

Pabrik pembuat Bio Diesel kapasitas 1,5 ton per hari buatan BPPTSejak awal Rudolf Diesel sang penemu mesin diesel memang memperkenalkan mesin diesel yang berbahan bakar minyak kacang. Ia mendemonstrasikan mesin tersebut dalam World’s Exhibition di Paris, 1900. Dalam perkembangannya, bahan bakar solar dari turunan minyak bumi lebih banyak digunakan.

Dengan harga yang murah, kinerja, dan subsidi pemerintah, bahan bakar dari minyak bumi menjadi pilihan selama bertahun-tahun. Namun, ketergantungan impor dan kapasitas produksi dalam negeri yang tidak mampu mencukupi kebutuhan menuntut dikembangkannya bahan bakar alternatif yang lebih murah dan tersedia di alam.

Biodiesel telah terlahir kembali dan mulai meluas penggunaannya di berbagai negara. Kesadaran itu pun muncul di Indonesia sejak krisis keuangan dan terus meningkatnya impor bahan bakar. “Kalau Brazil bisa mengganti 20 persen konsumsi bahan bakar minyak dengan biodiesel, mengapa kita tidak,” kata Makmuri Nuramin, Manajer Teknik Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT yang mengembangkan teknologi produksi biodiesel berbahan CPO (crude palm oil) dari kelapa sawit.

Secara teknis, biodiesel memiliki kinerja yang lebih baik daripada solar. Solar yang dicampur biodiesel memberikan angka cetane yang lebih tinggi hingga 64. Sebagai perbandingan, solar biasa memberikan angka cetane 48 sedangkan pertamina DEX (diesel environment extra) 53. Semakin tinggi angka cetane semakin aman emisi gas buangnya.

Pemakaian biodiesel juga tidak memerlukan modifikasi mesin, berfungsi sebagai pelumas sekaligus membersihkan injector, serta dapat mengurangi emisi karbon dioksida, partikulat berbahaya, dan sulfur oksida.

Biodiesel atau methyl ester diperoleh dari proses methanolisis minyak/lemak, menggunakan reaksi trans-esterifikasi ataupun esterifikasi dengan katalis basa atau asam dan metanol. Hasil pencucian dan pengeringan menghasilkan biodiesel yang siapa dipakai. Dari 1 kilogram bahan baku bisa menghasilkan sedikitnya 1 liter biodiesel. Sedang distilasi limbahnya menghasilkan gliserol dan metanol yang dapat digunakan kembali. Meski hanya sekitar 10 persen, gliserol menjadi produk sampingan yang juga bernilai ekonomis.

Selain CPO masih ada lebih dari 40 jenis minyak nabati yang potensial sebagai bahan baku biodiesel di Indonesia, misalnya minyak jarak pagar, minyak kelapa, minyak kedelai, dan minyak kapok. Meskipun tidak menghasilkan minyak sebesar kelapa sawit, pengembangan biodiesel dapat menyesuaikan potensi alam setempat.

Di samping sumber bahan bakunya melimpah dan terbarukan, biaya produksi lebih murah. Rata-rata biaya produksinya antara Rp 600 hingga Rp1.000 per liter. Sebagai pionir biodiesel di Indonesia, BPPT telah mengembangkan teknik produksi biodiesel termasuk rancang bangun pabriknya. Upaya tersebut telah menghasilkan empat buah paten dan pabrik pengolahan berskala kecil 1,5 ton biodiesel per hari di Puspiptek Serpong dan skala menegah 8 ton per hari di Riau.  

Meskipun baru tahap proyek percontohan, seluruh produksinya diserap pasar, khususnya untuk perusahaan yang dituntut menurunkan kadar emisi bahan bakar. Saat ini sudah ada sekitar sepuluh perusahaan swasta yang menjadi konsumen tetap Solarmax, nama dagang biodiesel, termasuk B10, untuk 35 kendaraan operasional di lingkungan BPPT.

“Pabrik pengolahan biodiesel tidak membutuhkan biaya investasi besar sehingga dapat dikembangkan melalui unit kecil dan dikelola oleh usaha kecil dan menengah (UKM),” kata Makmuri. Sebagai gambaran, pabrik dengan kapasitas produksi 3 ton per hari hanya membutuhkan investasi Rp3,9 miliar dan masa pengembalian sekitar 3 tahun.

Sebagai bagian blueprint pengelolaan energi nasional (PEN), target produksi biodiesel sebesar 720 kiloliter pada tahun 2009 untuk menggantikan 2 persen konsumsi solar hanya akan tercapai jika terdapat 25 unit pengolahan berkapasitas 30 ribu ton per tahun. Meskipun demikian untuk mencapai target mengganti 5 persen konsumsi solar 2025, tidak menutup kemungkinan pembuatan pabrik berkapasitas besar hingga 100 ribu ton per tahun yang memerlukan investasi masing-masing sekitar 100 miliar.

Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Sebagai produsen CPO atau minyak sawit terbesar kedua di dunia, Indonesia sangat potensial sebagai produsen biodiesel dengan memanfaatkan minyak yang berbasis sawit, baik CPO itu sendiri maupun dari turunannya.

Produksi CPO tahun 2003 telah mencapai tak kurang dari 9 juta ton dan tiap tahun mengalami kenaikan dapat mencapai 15 persen per tahun. Hampir seluruh produk CPO dapat diolah menjadi biodiesel, dari yang terbaik dengan kadar free fatty acid (FFA) kurang dari 5 persen hingga Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) berkadar FFA lebih dari 70 persen. Belum lagi potensi bahan baku lainnya, misalnya jarak pagar yang dapat tumbuh di lingkungan tandus sekalipun.

Meskipun demikian, sosialisasi penggunaan biodiesel tidak akan berarti tanpa dukungan dari pemerintah. Termasuk standardisasi produk untuk memberikan perlindungan kepada konsumen. Makmuri berharap dalam 2 hingga 3 bulan ke depan, standardisasi biodiesel dapat ditetapkan pemerintah sehingga teknologi pengolahan yang telah dikuasai BPPT dapat segera dikomersialkan.

Selain itu, kesiapan komersialisasi biodiesel ujung-ujungnya adalah harga jual, kata Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, Yogo Pratomo saat melepas rombongan media yang akan meninjau lokasi energi terbarukan di Jawa Barat, Jumat (9/9). Untuk menekan biaya bahan baku dan mendorong investasi, sekarang sedang digodok bentuk insentif dengan Departemen Keuangan. Salah satu yang diusulkan adalah pembebasan pajak impor mesin pengolahan biodiesel seperti yang diterapkan di negara-negara lain.

Dengan demikian harga jual biodiesel dapat bersaing dengan harga solar yang cenderung terus naik tergantung pasokan impor minyak dunia.

Sumber : KCM

15 Tanggapan to “Rahasia Biodiesel, Solar Masa Depan”

  1. masharis said

    Ikut ngobrol ah: Di Jerman mobil sudah mulai umum pakai bahan bakar minyak goreng (Rhapsöl)lho pak, Jadi pom bensin selain jual benzin dan solar juga jual rhapsöl itu. Mobilnya pake tangki dobel. Dulu pertama kali liat sempat melongo, lha pom bensin kok jual minyak goreng, setelah tanya-tanya ternyata dipake BBM mobil juga. Tapi masalahnya pasang tangki dan kelengkapannya mahal. Trus, pernah baca sambil lalu dikoran, katanya kapal selamnya pake bahan bakar air.

  2. Luthfi said

    ada tulisan yang menarik Pak,
    ini alamatnya
    http://priyadi.net/archives/2006/11/15/benarkah-bahan-bakar-bio-tidak-ramah-lingkungan/

  3. danukusuma said

    Kalo menurut saya sebaiknya pengembangan minyak bio diesel diarahkan untuk industri kecil karena tehnologinya sangat sederhana, namun perlu diawasi oleh standar yang diberlakukan secara nasional. Pendiriannya juga diarahkan per daerah saja sekalian untuk memberdayakan inndustri kecil, namun yg harus dipikirkan pengadaan bibit dan mesin presnya.

  4. 1. Masharis :

    Wah… jadi pengen neh liat langsung ke Jerman…🙂

    [dream_mode=”on”]😦

  5. 2. Luthfi :

    Hmm… counter artikel yang bagus… tar deh kapan2 nulis disini, sementara ini mo concern ke minyak bumi dulu…

  6. 3. Danukusuma :

    Yup, setuju… kudu rakyat oriented…🙂

  7. Salam kenal mas,

    sedikit nambahin soal biaya bikin pabrik biofuel, soalnya lagi rame tender nasional – moga2 tepat sasaran.
    http://www.folkecenter.dk/plant-oil/efdcpos_ef.pdf

    Salam – Ibnu

  8. Terimakasih Pak Ibnu atas tambahan informasinya…🙂

  9. InfoEnergi said

    Bahan bakar nabati (BBN), dalam bentuk bioetanol dan biodisel, menjadi secercah harapan baru bagi pemerintah untuk meningkatkan devisa, menciptakan lapangan kerja baru serta membantu mengurangi angka kemiskinan. Pemanfaatan BBN juga diharapkan mengurangi pencemaran udara serta menciptakan kemandirian energi dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak bumi.

    Namun, di tengah harapan cerah tersebut, program BBN juga menyimpan sejumlah potensi bencana yang serius. Setidaknya ada tiga bencana atau kegagalan yang harus diwaspadai, yaitu kerusakan hutan, kelangkaan pangan dan kegagalan menciptakan pasar domestik.

    Tulisan selengkapnya ada di infoenergi.wordpress.com

  10. EG Giwangkara S said

    Setuju, selain itu memang tetap tidak ramah lingkungan, karena masih melepaskan emisi gas buang yang mengakibatkan efek rumah kaca seperti yang dikhawatirkan selama ini.

  11. Percepat kemandirian bangsa. Bangun pabrik biodiesel dengan teknologi dan sumberdaya manusia Indonesia. PT RBS merupakan perusahaan yang ingin memajukan Indonesia dengan menerapkan teknologi tepat guna di sektor biofuel. Pabrik yang telah dibangun oleh PT RBS telah mengucurkan biodiesel yang memenuhi standard nasional Indonesia Biodiesel. Kami ingin besar bersama Anda. Kami siap membantu Anda dengan teknologi anak bangsa.
    Pabrik kami merupakan multi feed stock plant (bahan baku beragam: CPO, PFAD, jarak pagar, minyak kelapa, dll) dan sekaligus multi grade feed stock plant (kadar FFA bervariasi).
    Kami tampil di negeri maya di http://www.rbsindonesia.com dan info@rbsindonesia.com
    Hubungan telepon bisa dilakukan di nomor 021 71045665 dan 71216722
    Atas perhatiannya kami ucapkan banyak terima kasih.

    PT RBS

  12. langit said

    benernya biodisel tu ramah lingkungan g si??bukan orang kimia si…jadi harap maklum yaaaa…..

  13. hen said

    saya mau nanya.,selama ini katalis yang digunakan dalam pembuatan biodiesel merupakan bahan kimia yaitu KOH, Methanol..yang mau saya tanyakan disini, adakah katalis organik sebagai substitusi dari katalis kimia tadi?!terima kasih…tolong balas pada email saya.

  14. saya memerlukan minyak jarak pagar biodiesel 1000 TON perhari untuk export.kalaupun tidak sampai 1000 TON, puluhan ton atau ratusan ton juga boleh.Bagi yang memiliki silahkan hubungi saya melalui e-mail bangdinyani@yahoo.com

    saya akan segera mengirimkan spesifikasi dari minyak jarak yang diperlukan kepada saudara yang serius.

    Terima kasih,

    Hormat Saya,

    Din Herdiana

  15. trenggana said

    mari indonesia kita bantu petani kelapa sawit dengan program
    biodiesel di seluruh indonesia di kala harga sawit turun sekarang ini. semoga indonesia menjadi negara maju bersama biodiesel. pembangkit listrik indonesia seharusnya memakai biodiesel. jika perlu pemerintah daerah melalui perusahaan daerah ikut menangani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: