NgélMu – aNgél sadurungé keteMu

Jarak Pagar Lebih Fleksibel dari Kelapa Sawit

Posted by EG Giwangkara S pada Sabtu, 29 Juli 2006

Buah Jarak (Jathropa curcas)Jarak pagar (Jathropa curcas) menjadi sangat populer ketika menyoal energi alternatif ramah lingkungan. Biji-bijinya mampu menghasilkan minyak campuran untuk solar. Selain dari jarak pagar, pada dasarnya minyak yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan dapat dijadikan bahan campuran solar, misalnya kelapa sawit atau kedelai.
 
Dari percobaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), campuran solar dan minyak nabati (biodiesel) memiliki nilai cetane (oktan pada bensin) lebih tinggi daripada solar murni. Solar yang dicampur dengan minyak nabati menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna daripada solar murni sehingga emisi lebih aman bagi lingkungan.

“Jika solar murni nilai angka cetane-nya sekitar 47, biodiesel antara 60 hingga 62,” kata Sony Solistia Wirawan, Kepala Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT di Pusat Penelitian Ilmu Penegtahuan dan Teknologi Serpong, Selasa (14/2). Dalam satu liter bahan bakar, komposisi minyak nabati yang dapat digunakan baru 30 persen agar tidak mengganggu mesin yang dipakai kendaraan sekarang. Menurutnya, di beberapa negara maju biodiesel bahkan telah digunakan 100 persen dengan modifikasi mesin. Bahan-bahan dari karet diganti dengan sintesis viton yang tahan minyak.

Meskipun percobaan baru dilakukan untuk minyak nabati dari bahan kepala sawit, menurut Soni, hal tersebut dapat dilakukan juga untuk minyak jarak. Minyak mentah hasil perasan biji kering akan diolah dengan proses trans-esterifikasi menggunakan metanol untuk memisahkan air. Reaksi tersebut tergolong sederhana dan hanya diperlukan sekitar 10 persen metanol. Hampir 100 persen minyak dapat dimurnikan, bahkan menghasilkan produk samping gliserol yang juga bernilai ekonomi.

“Satu pabrik ukuran kecil yang ada di Serpong dapat menghasilkan 1,5 ton minyak perhari,” kata Soni. Meskipun demikian, pihaknya sedang mengembangkan mesin pengolah berkekuatan berkapasitas lebih kecil maupun besar untuk kalangan industri. Biaya investasi untuk mesin saja diperkirakan sekitar 800 juta, sedangkan untuk mesin berkekuatan 3 ton perhari mungkin mencapai 2 hingga 3 miliar.

“Secara teknis prosesnya tidak jauh berbeda dengan pengolahan minyak goreng,” katanya. Hanya saja, pasokan bahan baku minyak nabati jumlahnya masih terbatas. Kelapa sawit masih ekonomis diolah menjadi minyak goreng meskipun minyak mentahnya (CPO) yang berkualitas rendah berpotensi untuk diolah menjadi biodiesel.

Jika dibandingkan, jarak pagar mungkin lebih berpotensi daripada kelapa sawit. Jarak pagar yang dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia baru digunakan sebagai pagar hidup. Tumbuhan bergetah ini dapat tumbuh di mana saja, hidup di berbagai kondisi tanah, dan tahan kekeringan, tidak seperti kelapa sawit, yang membutuhkan lahan khusus, ketinggian daerah, dan faktor iklim tertentu. Oleh karena itu, para peneliti BPPT berharap bahwa pengembangan jarak pagar tidak diarahkan untuk merelokasi lahan subur, namun memberdayakan lahan kritis.

“Produktivitasnya juga tidak jauh berbeda, dalam satu hektar lahan dapat dihasilkan sekitar 5 ton minyak pertahun,” kata Nadirman Haska, Kepala Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT. Satu hektar lahan mampu menghasilkan 25 ton tandan kelapa sawit segar yang dapat diolah menjadi 5 ton CPO sejak tahun ketiga hingga usia produktif 20 tahun.

“Dengan luas lahan yang sama, saya perkirakan dapat ditanam 2.500 batang jarak pagar,” kata Nadirman. Sejak usia 5 hingga 8 bulan, buahnya matang sehingga di tahun pertama pun hasilnya dapat dinikmati. Meski demikian, lanjut Nadirman, mungkin baru dihasilkan sekitar 0,5 ton minyak. Seiring tumbuhnya tanaman, produksinya diharapkan terus meningkat lebih dari 10 ton sejak tahun keenam. Usia produktif jarak pagar diperkirakan antara 20 hingga 50 tahun. 

Ongkos perawatan untuk tanaman liar ini juga lebih murah. Nadirman memperkirakan hanya perlu 20 hingga 25 persen pendapatan dari hasil produksinya yang dipakai. Sedangkan untuk kelapa sawit, biaya operasionalnya 40 hingga 50 persen dari besar pendapatan produksinya.

Pada dasarnya pembibitan dapat dilakukan secara generatif atau vegetatif. Namun, pembibitan generatif menggunakan biji tidak disarankan karena menurunkan sifat genetik berbeda, sedangkan dengan stek atau kultur jaringan sifat-sifat unggul dapat dipertahankan pada keturunannya.

Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT telah mengembangkan proses pembibitan sederhana yang dapat dilakukan siapa pun dengan sedikit latihan. Bahkan telah disiapkan cairan nutrisi tanaman untuk mencegah mortalitas (kegagalan) bibit dan merangsang pertumbuhannya dari proses penyiapan hingga siap tanam di ruang terbuka.

Selain itu, teknik kultur jaringan yang membutuhkan teknik lebih rumit di laboratorium terus dikembangkan, termasuk menyiapkan pohon induk yang memiliki sifat-sifat genetik baik yaitu menghasilkan biji besar, buah banyak, dan masa tanam cepat. (Wah)

Sumber : KCM

23 Tanggapan to “Jarak Pagar Lebih Fleksibel dari Kelapa Sawit”

  1. KAIRMA said

    saya kira kurang data perbandingan tanaman jarak pagar dan sawit. Contohnya perbandingan data berapa kg yang dihasilkan dan berapa liter yang didapat dihasilkan menjadi minyak.

  2. aby said

    komentar : informasi tanaman jarak sangat dibutuhkan karena itu , dengan adanya info semacam ini sangat membantu kami dalam hal pengembangan tanaman jarak di Sul-Sel. saya juga sangat berharap informasi menyangkut investor yang akan berivestasi di Sulsel untuk pengembangan tanaman jarak. terima kasih.

  3. Percepat kemandirian bangsa. Bangun pabrik biodiesel dengan teknologi dan sumberdaya manusia Indonesia. PT RBS merupakan perusahaan yang ingin memajukan Indonesia dengan menerapkan teknologi tepat guna di sektor biofuel. Pabrik yang telah dibangun oleh PT RBS telah mengucurkan biodiesel yang memenuhi standard nasional Indonesia Biodiesel. Kami ingin besar bersama Anda. Kami siap membantu Anda dengan teknologi anak bangsa.
    Pabrik kami merupakan multi feed stock plant (bahan baku beragam: CPO, PFAD, jarak pagar, minyak kelapa, dll) dan sekaligus multi grade feed stock plant (kadar FFA bervariasi).
    Kami tampil di negeri maya di http://www.rbsindonesia.com dan info@rbsindonesia.com
    Hubungan telepon bisa dilakukan di nomor 021 71045665 dan 71216722
    Atas perhatiannya kami ucapkan banyak terima kasih.

    PT RBS

  4. Bona said

    Yth. Pak Givangkara,

    terima kasih atas semua informasi yang Anda tulis dalam blog ini. Saya yakin banyak orang yang mendapat pencerahan dari apa-apa yang sudah Anda tulis.

    Saya tertarik dengan artikel-artikel biofuel yang telah Anda kompilasi. Kebetulan saat ini saya sedang studi tentang biofuel ini di sebuah kota di Jerman, tempat dimana Karl Benz dulu belajar.

    Sekedar melengkapi informasi yang telah Anda berikan, di Jerman sekarang perkembangan energi alternatif sangatlah pesat. Yang sangat menarik adalah teknologi pembuatan gas sintetis dari limbah organik (municipal solid waste) dan dari suatu tanaman liar (yang kini mulai dibudidayakan) dengan nama latin miscantus sp. (saya tidak tau persis bahasa Indonesianya).

    Bagaimanapun, saya berterima kasih kepada Pak Giwang atas keuletannya memelihara blog ini, sehingga saya bisa mendapat update informasi tentang riset biofuel di tanah air. Sukses untuk Anda.

    viele Grüße von Deutschland

    Bona

  5. Hadi Prasetyo said

    Untuk menghasilkan 1L minyak jarak murni tersaring dibutuhkan kira2 4kg biji jarak kering… Apabila harga biji jarak kering per kg sekitar Rp 2000,- (inipun profitnya tipis buat petani jarak), maka harga bahan baku 1L minyak jarak adalah Rp 8000,-/L, blm lagi ditambah biaya operasional pengolahan (bayar gaji operator, perawatan mesin giling dsb)… Apakah ini cukup ekonomis ??

    Mungkin akan lebih baik bila dipakai Algae hijau sbg sumber bahan bakar nabati ^_^

  6. Rifu said

    wah, setuju dengan Pak Hadi. rasio minyak nabati:biomassa total untuk alga jauh lebih bagus daripada tanaman terestrial lainnya. alga lebih cepat tumbuh, lebih efisien dalam menyerap nutrisi dan bisa sekaligus digunakan untuk mengurangi emisi CO2. sayangnya, pemisahan alga dari kulturnya (dengan sentrifugasi) itu juga butuh energi banyak. belum lagi ekstraksi minyak nabatinya. harus dicari dulu nih solusinya, sebelum full potential nya si alga bisa di tap.

  7. bayu said

    tingkatkan enegi alternatif demi kemajuan dan kreatifitas dem kemakmuran bangsa saya mendukung sangat akan hal itu. sudahkah ada penanaman secara besar-besaran. yang diperkirakan energi fosil akan habis 18 thn lagi dari cadangan negeri kita , sedangkan minyak dunia terus merangkak naik mencapai 100US Dolar per barelnya sedangkan kita saat ini sudah impor dalam jumlah besar per harinya.

  8. laras said

    makasi uda nyediain info.
    sngt membantu buat bkin tugas🙂

  9. Ignatius Wirawan said

    Biofuel dari semua bahan baku / sumber daya hayati dalam skema green energy baik jarak pagar, singkong, kelapa dll perlu dikaji secara lebih komprehensif mengingat sumber energi dari minyak fosil tidak mungkin dikembangkan lagi pada masa yang akan datang. Bila tanaman jarak pagar lebih bermanfaat bagi alternatif bahan baku energi buat Indonesia, apa salahnya sudah mulai dikampayekan dan dososialisasikan ke segenap penduduk dan industri.

  10. Rommy said

    koq kelihatannya masalah energi alternatif ini (biodiesel dari Jarak Pagar) masih dalam tahap observasi dan penelitian belum ada action yg rill di lakukan, sebaiknya pemerintah membuat regulasi peraturan dan termasuk juga harga jual produk agar ada kepastian dalam hal pengembangan energi alternatif ini, karena ke depannya akan melibatkan banyak sekali stakeholder baik dalam dan luar negeri. sambil pemerintah melakukan pengurangan bertahap terhadap subsidi bahan bakar minyak,sehingga pengalihan konsumsi BBM Fosil ke BBM nabati bisa terjadi. kalau seperti ini saya yakin kita tidak akan pernah bisa melepaskan ketergantungan terhadap bahan bakar dari fosil.

  11. Soma Romadona said

    Dalam artikel ini dijelaskan bahwa jarak pagar bisa tumbuh di linkungan mana saja da tahn terhadap kekeringan.Tetap mengapa belum banyak orang yang membudidayakan tanaman ini? Mohon dijelaskan!

  12. anto said

    dalam artikel tolong dijelaskan mengenai proses pembuatan biokerosin secara sederhana. mohon dijelaskan

  13. Triyanto said

    Kalau memang jarak pagar lebih berpotensi, silakan BPPT buat demplot 100 ha kebun jarak pagar dan 100 ha kebun kelapa sawit. Tinjauannya harus dari praktek lapangan, jangan hanya study literatur, study banding atau “mengarang bebas”. Sedangkan masalah proses industri biodieselnya, nggak usah pusing2 mengulang2 hasil percobaan yang sudah banyak dilakukan di negara lain, cari yang khas (Lurgi teknologinya sudah ok, kita harus bersaing di bidang lainnya, misalnya peningkatan produktivitas di sektor hulu/perkebunannya).

  14. baliazura said

    permisi…..
    gambarnya saya contek..
    boleh ya…

  15. Nasrullah said

    Ini yg nyata, kebun sawit 2,7ha skrng panen hasil bersih 1,8jt. Nanti tunggu 2 minggu kedepan kutip buah lagi. Semoga 18 thn kedepan masih bisa berbuah. Dgn pupuk +/-440kg/thn

  16. novs said

    numpang nanya kalau saudara tahu,,
    vapour pressure-nya minyak jarak pagar tu berapa ya?
    dari kemarin cari data vapour pressurenya ngga ketemu.
    trimakasih

  17. akhir.rambe said

    Yang terhormat Bapak giwankara s

    Saya mau menjelaskan sedikit saja kepada bapak yang ahli dan pintar ini dan sedikit pertanyaan

    Bapak ini mau kampanyae jarak pagar atau mau jual mesin sehingga di tampilan bapak yang menonjol itu hanya harga mesin dan teknik pengoolahannya sementara jarak pagarnya hanya yang standart dan normatif saja.

    Bapak giwankara yang pintar dan terhormat
    saya mohon kalau buat tulisan itu yang benar jangan mentang-mentang bapak dibiayai negara penelitiannya maka dengan seenaknya aja mengatakan lebih fleksibel jarak pagar dari sawit.

    Mohon maaf ini saya yang bodoh coba jelaskan sedikit aja sama bapak

    Kebutuhan petani 1 ha lahan untuk pupuk 2.200.000
    hasil tahun pertama 1 ton kalau ada
    Harga 500 rupiah
    jadi harga jual dikurangi biaya akan sama dengan
    500.000-2.2.200.000 = -1.700.000
    Jadi kerugian petani jarak setiap tahun 1.700.000 plus tenaga

    Jadi maksud bapak fleksibel dari mana ? tolong jawab atau datang ketempat kami kalau ingin bukti pak biar bapak bertambah pintar

    • CJO said

      potensial produksi tanaman jarak meningkat dari th-1 sampai th-5;
      (2500 pohon/1 ha)
      th-1 = 0,8 – 1 ton (biji jarak)(Rp 1200-1500/kg)
      th-2 = 1,6 – 2 ton
      th-3 = 3,0 – 4 ton
      th-4 = 5,0 – 6 ton
      th-5 = 7,0 – 8 ton
      th-6 dst = 8 ton

      pupuk cukup pada saat penanaman selanjutnya 2th sekali,konsumsi air 5 liter/2 minggu, dan tanaman jarak jg ga aneh2 minta pupuknya pupuk kandang sdh cukup (Rp 250/kg).

    • hehehheee… artikel di atas sudah dibaca kah ?

  18. Bodong said

    Benar Opung Rambe:

    Di negeri kita tercinta ini macam-macam saja keadaannya. Orang-orang kok suka menulis asal-asalan gitu. Di koran Kompas juga misalnya, saat harga TBS sawit anjlok, dikatakan seolah2 pupus sudah harapan petani sawit….. nah kalau tulisan itu dibaca oleh orang awam atau petani yg masih baru dalam menanam sawit kan malah menjadi kontraproduktif, membuat mereka jera menanam sawit.

  19. bram said

    kami tertarik dengan artikel jarak pagar,
    perusahaan kami membutuhkan suplier biji jarak pagar 12 ton/minggu sesuai standar mutu perusahaan .

  20. Aris said

    Maaf saya ingin tanya jika dibandingkan dengan tanaman nyamplung dan jarak pagar bagaimana, lebih baik yang mana dan termasuk luas lahannya bagaimana…?.

  21. […] sumber : https://persembahanku.wordpress.com/2006/07/29/jarak-pagar-lebih-fleksibel-dari-kelapa-sawit/ […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: