NgélMu – aNgél sadurungé keteMu

Sowan ke Rumah Phitecantrhopus Erectus

Posted by EG Giwangkara S pada Minggu, 13 Agustus 2006

Pithecanthropus ErectusMungkin masih ingat, waktu SMP awal tahun 80-an pernah belajar tentang sejarah Indonesia. Salah satu materinya tentang penemuan fosil manusia purba Indonesia, yaitu Phitecanthropus Erectus di Trinil (Ngawi) dan Sangiran (Solo), Jawa Tengah.

Berikut laporan perjalanan saya waktu sengaja hunting literatur pada tanggal 11 Desember 2005 lalu. Sebenernya saya ga ada urusan dengan Palaeontologi, tapi karena Kertas Kerja Wajib saya tentang identifikasi minyak bumi, maka saya harus belajar Geokimia untuk mempelajari bagaimana minyak bumi terbentuk, artinya saya juga harus nyari literatur bagaimana bumi terbentuk. Salah satu sumber data primer ya saya harus nyari di museum, khususnya museum geologi atau situs kepurbakalaan di Trinil dan Sangiran.

Penanda lokasi museum di pinggir jalan Ngawi - SragenSitus Kepurbakalaan Trinil terletak di Dukuh Pilang, Desa Kawon, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Trinil berjarak 11 km dari Ngawi ke arah Barat Daya. Waktu perjalanan ke Trinil dapat ditempuh 5 menit dari terminal Ngawi menuju Sragen, atau 30 menit dari kota Sragen menuju Ngawi.

Saya sendiri melakuakan perjalanan ke Museum Trinil menggunakan angkutan umum. Dari Cepu berangkat pukul 8 pagi bersama teman satu jurusan kuliah (Suryo Cahyono dari Laboratorium Kilang Pertamina Balikpapan) yang kebetulan orang Ngawi menggunakan bis SE (super ekonomi) menuju Ngawi. Dengan ongkos Rp. 2500 dan waktu jelajah ± jam kami sampai di Terminal Ngawi. Dari Terminal Ngawi masih pagi dan kendaraan masih banyak, jadi tidak terlalu lama menunggu bis jurusan Solo. Kami melanjutkan perjalanan menggunakan bis SE juga jurusan Solo dan mbayar Rp. 1500. Setelah perjalanan 5 menit kami sampai di Gerbang besar di pinggir jalan Ngawi – Sragen.

Gerbang pinggir jalan memasuki lokasi museumTadinya kami kira gerbang disamping ini adalah gerbang museum, setelah ditanyakan ke warung rokok ternyata gerbang itu hanya pertanda dari pinggir jalan bahwa disitulah pintu gerbang jalan menuju museum Trinil. Untuk sampai ke museumnya sendiri harus menggunakan ojek atau kendaraan pribadi.

Perjalanan dari pinggir jalan menuju pedalaman dukuh di tepi Bengawan Solo dimana Museum Trinil berada memakan waktu ± 10 menit. Sebetulnya jaraknya hanya 3 km saja, tapi karena jalannya banyak yang “Off Road” feel, maka waktu jelajah menjadi lama. Tapi selama perjalanan tidak membosankan, karena sepanjang perjalanan selalu sejukkan dengan pemandangan sawah yang menghampar. Kebetulan saat itu baru 4 minggu sebelumnya musim tanam, jadi sawahnya betul-betul masih hijau ngagedod. Jadi terharu, keingetan masa kecil waktu masih ngangon domba dulu di pematang sawah… hiks…😦

The real Moseum gateSetelah sampai di depan (the real) pintu gerbang museum kami beristirahat untuk menenangkan diri dulu di warung depan setelah mengalami jet-lag dan guncangan selama diatas ojek tadi sambil minum kopi kothok, lagian mo pesan mocapuchino ga ada..😦, tapi untung saja warung itu menjual “rokok merah putih”. Setelah habis beberapa batang rokok baru deh kami masuk museum dengan gaya turis dan tanya sana-sini setelah membayar tiket masuk yang Rp. 1000 saja,…🙂

Lempeng bumi 650 juta tahun lalu (Pangea)Menurut salah satu hipotesa tentang pembentukan bumi, konon 650 juta tahun yang lalu di bumi hanya ada satu daratan, yaitu Pangea. Daratan itu kemudian retak dan pecah karena cuaca dan pergerakan aliran inti cair bumi lalu bergerak mengapung memisah sehigga jadi daratan2daratan bumi sekarang. Hipotesa itu masuk akal, karena kalau lempeng bumi kita “gathuk-gathuk“-kan lagi maka akan akan klop seperti permainan fig-jig dan membentuk satu lempengan / daratan besar lagi.

Pada zaman pleistosen lapisan es di kedua kutub Bumi (zaman glacial) meluas dan diseling dengan zaman ketika es kembali mencair (zaman interglacial). Keadaan ini silih berganti selama zaman pleistosin sampai empat kali. Di daerah tropika zaman glacial ini berupa zaman hujan (zaman pluvial) yang diseling dengan zaman kering (interpluvial).

Lempeng bumi sekarang

 

Pada zaman glacial permukaan air laut telah menurun dengan drastis sehingga hanyak dasar laut yang kering menjadi daratan. Di Indonesia bagian barat dasar laut yang mengering itu disebut Dataran Sunda, sedangkan di Indonesia bagian timur disebut Dataran Sahul. Dataran Sunda telah menyebabkan kepulauan Indonesia bagian barat menjadi satu dengan Benua Asia, sedangkan Dataran Sahul telah pula menghubungkan kepulauan Indonesia bagian timur dengan Benua Australia. Itulah sebabnya fauna dan flora Indonesia barat mirip dengan fauna dan flora Asia dan sebaliknya fauna dan flora Indonesia timur mirip dengan Australia. Manusia yang hidup zaman pleistosin adalah spesies homo erectus, yang menjadi pendukung kebudayaan batu tua (Palaeolithicum).

Zaman pleistosin berakhir 10.000 tahun Sebelum Masehi kemudian diikuti oleh datangnya zaman aluvium atau zaman holosin yang masih berlangsung sampai sekarang. Dari zaman ini muncullah nenek moyang manusia sekarang, yaitu spesies homo sapiens atau makhluk cerdas.

Penemuan dan penelitian fosil manusia purba di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Van Rietrohoten dan Eugene Dubois di Wajak dekat Campur Darat Tulungagung pada tahun 1889 dan 1890. Dari nama daerah fosil ditemukan, maka manusia purbanya dinamakan Homo Wajakensis, yang artinya “manusia dari Wajak” (dalam bahasa latin “Homo” berarti “manusia”, “Wajak” merupakan nama tempat ditemukan fosilnya, dan “~ensis” berarti “berasal”)… (cmiiw).

Seperti halnya Jendral McArtur jika mendatangi suatu tempat baru, maka kami pun take pose disekitar icon museum, yaitu monumen penemuan phitecanthropus erectus hanya untuk mengatakan secara implisit bahwa “I was here…”.

I was here

Monumen penemuan fosil phitecantropus erectus ini berada di halaman depan museum. Ukurannya bisa kira-kira sendiri dari foto itu. Di monumen tersebut ditulis : “P.e. 175m (gambar anak panah), 1891/95”. Tanda itu dibacanya kira-kira begini : “175 meter dari monumen ini kearah anak panah telah dilakukan penggalian (eksavasi) fosil Phitecanthropus erectus pada tahun 1891 sampai dengan 1895”. Monumen ini sendiri dibangun atas prakarsa E. Bubois pada tahun 1895.

Mr. Phitecanthropus Erectus Mrs. Phitecanthropus Erectus Phitecanthropus Erectus, Jr. Old Phitecanthropus Erectus

Penemuan berikutnya didaerah Trinil – Ngawi, mulai tahun 1890 sampai tahun 1907 berupa gigi geraham, atap tengkorak dan sebagian kerangka milik Phitecanthropus Erectus. Saya tidak tahu kenapa penamaan tidak konsisten sehinggan bisa dinamakan “Homo Trinilensis” atau “Phitecanthropus Ngawinensis”. Kemudian tahun 1907 sampai dengan 1908 Nj. Salenka mengadakan penyelidikan dan penggalian di Trinil tidak menemukan fosil manusia, tetapi banyak sekali menemukan fosil hewan dan tumbuhan, sehingga bisa digunakan untuk memahami lingkungan Pleistosin tengah di daerah tersebut.

Perbandingan ukuran manusia purbaPenemuan dan penelitian manusia purba Indonesia oleh Von Koeningswald terus dilakukan sampai tahun 1941 dan banyak menemukan fosil baru barupa tengkorak dan tulang kering Phitecanthropus Soloensis di Ngandong, Kabupaten Blora, Mojokertensis, Phitecanthropus Erectus di Sangiran dan Meganthropus Palaeojavanicus. Sayangnya banyak fosil-fosil asli dibawa ke Leiden (Belanda) dan Frankfurt (Jerman). Indonesia hanya memiliki replika fosilnya saja. Tapi untung saja hasil dari penemuan berikutnya banyak disimpan di Museum Palaeontologi Yogyakarta.

Dari data hasil penemuemuan dan penelitian fosil manusia, hewan dan tumbuhan di Trinil dahulunya pada zaman Pleosin awal (1 juta tahun yl) banyak pohon-pojon tinggi (mungkin seperti pohon Redwood ‘kali ya ?) pada ketinggian 600 – 1200 m DPL. Iklim Trinil saat itu diperkirakan 6° – 8°C lebih rendah dari iklim sekarang. Saat kunjungan ke Trinil, saya perkirakan suhu saat itu cukup sejuk (± 27°C). Jadi perkiraan suhu saaat itu sekitar 18° – 21°C, jadi wajar saja kalau saat itu manusia masih belum survive untuk menciptakan mesin pendingin ruangan (AC). :p

Replika gajah purbaDari rekonstruksi fosil gajah yang ditemukan di sekitar Trinil dibangun patung gajah purba di halaman museum. Bisa dibayangkan gimana kerasnya kehidupan waktu itu dimana manusia purba dengan teknologi yang sangat sederhana harus survive melawan cuaca dan binatang liar. Padahal ukuran manusia purba rata hanya 165 cm saja.

Yang menarik perhatian saya adalah bentuk gajah tersebut lebih mirip dengan Mamouth dari belahan bumi utara. Memang sama-sama spesies gajah, tapi bedanya gajah Trinil tidak berbulu seperti Mamouth, mungkin karena seleksi alam.

Setelah selesai keliling melihat koleksi museum naluri ke-QA-an saya terusik untuk menanyakan kepada petugas dimana sih titik penemuan Phitecanthropus Erectus-nya E. Dubois yang terkenal itu ? Dan kenapa harus membangun museum yang “jauh dari peradaban” ? Apa karena ini museum purbakala ?

Tour ‘de Bengawan SoloLewat tengah hari isi museum sudah habis diamati n (tentu saja) difoto. Setelah lunch omelette spaghetti (indomie + telur rebus) kami main ke belakang museum dan turun ke belakang museum. Harapan saya bisa ketemu perahu penambang pasir dan numpang nyembrang ke tempat pertama kali fosil phitecanthropus ditemukan. Ternyata kami sedikkit kecewa, karena tidak ada penambang pasir yang sedang kerja. Kalaupun ada perahu tetapi tidak ada ABK nya. Mungkin melihat kami clingak-clinguk dipinggir Bengawan Solo, akhirnya pemilik perahu yang rumahnya di belakang museum menghampiri. Setelah bargain tarif sewa perahu, akhirnya kami setuju carter perahu Rp. 25000 round-trip. Akhirnya kami kesampaian untuk Tour ‘de Bengawan Solo.

Tempat ditemukannya phitecanthropus erectusDisinilah tempat persisnya fosil Phitecanthropus Erectus yang kita pelajari di sejarah ditemukan. Di situs yang merupakan singkapan batuan gamping ini banyak ditemukan lubang bekas praktikum eksavakasi mahasiswa jurusan geologi – palaentologi.  Situs tersebut berada di belokan Bengawan Solo yang dalam dan airnya mengalir deras. menurut nakhoda perahu yang kami sewa sih dalam sungan Bengawan Solo pada daerah itu sekitar 15 meter dan pusaran airnya kuat, makanya terkesan hieum (angker).

Situs purba dengan background Gunung LawuKarena hari dah menjelang malam, kami pun segera pulang setelah sebelumnya menyempatkan mengambil gambar sunset di situs purbakala dengan background Gunung Lawu.

Ada yang menarik tentang Bengawan Solo ini. Selama ini kita taunya bahwa Bengawan Solo mengalir ke utara menuju Laut Jawa. Ternyata pada jaman purba Bengawan Solo tuh mengalirnya ke Selatan atau ke Samudra Indonesia. Hal ini terjadi karena lempeng Sunda (Asia) yang dominan mengandung aliminium dan kalsium terangkat oleh lempeng Australia yang dominan mengandung silika. Untuk lebih jelasnya silahkan baca artikel Pantai Selatan Jawa Didongkrak !


Peta lempeng bumi sekarang
Sumber : National Geospatial-Intellegence Agency

 

8 Tanggapan to “Sowan ke Rumah Phitecantrhopus Erectus”

  1. Rovicky said

    Mas,
    Mreka itu kenal sama Nabi Adam ngga ya ?
    upst !

  2. EG Giwangkara S said

    waduh… susah jawabnya, pak…🙂

  3. Tea_AS said

    yup, bner q gk percaya bgt klo manusia yang pertama hidup tuh manusia purba!Bukannya Nabi Adam AS, kan dah dijelasin di Kitab Suci.Tp wajar,definisi orang tuh beda2 karna tu kan pemberian-Nya.

  4. agama vs darwinisme.
    Agama: manusia sudah jadi, sudah pinter siap sembahyang. Apakah ada di muka bumi ini, sesuatu ayng sudah langsung pinter dan langsung bisa sembahyang? Bayi pun perlu waktu untuk berkembang.
    Darwinisme: perkembangan menuju apapun,terutama perkembangan mahkluk hidup, memerlukan waktu, perubahan dan penyesuaian. 10.000 tahun lagi, kita pasti secara fisik dan intelektual tidak akan seperti kita saat ini.

  5. &to said

    Mas tulisan anda menarik sekaleee…..Btw anda alumni arkeologi UGM ya?

  6. diita said

    butUh gambaR macam2 fosil doonk..

    bisa gak baNtUiN?

    makasI maSS…

  7. @ 5. &To :

    Bukan, Pak.
    Saya hanya dari SMAKBO yang melanjutkan ke AKAMIGAS.

  8. @ 6. Diita :

    Laah… pan itu gampang banget. Tinggal googling aja pasti dapet.
    Neh hasil googling saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: