NgélMu – aNgél sadurungé keteMu

Kawengan Highland

Posted by EG Giwangkara S pada Minggu, 8 Oktober 2006

Lokasi Kawengan HighlandKawengan adalah sebuah nama tempat yang berada pada ketinggian sekitar ± 800 meter diatas permukaan laut (mdpl) dan terletak sekitar 10 km sebelah utara kota Cepu yang merupakan kota perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dibatasi oleh Bengawan Solo di pulau Jawa sebelah utara. Atau lebih tepatnya Kawengan berada pada koordinat 7°04’ Lintang Selatan (LS) dan 111°36’ Bujur Timur (BT). Sementara Cepu berada pada koordinat 7°08’ LS dan 111°35 BT di ketinggian ± 10 mdpl. Mengingat  jalan  yang ditempuh berbelok-belok seperti halnya pada dataran tinggi lain, maka jarak tempuh Cepu – Kawengan menjadi sekitar 25 km.

Tulisan ini merupakan tulisan kedua saya mengenai situs perminyakan disekitar Cepu yang saya kunjungi pada tanggal 20 November 2005.

Lokasi Kawengan Highland

Daerah Patahan Kerak Bumi dan Singkapan Batuan Formasi

Kawengan biasa disebut sebagai daerah dataran tinggi, bukan sebagai daerah pegunungan. Karena dataran tinggi Kawengan tidak terbentuk karena ada pegunungan disekitarnya, tetapi terbentuk karena merupakan titik pertemuan pergerakan tektonik kerak bumi sejak zaman purba dari arah yang berlawanan, yaitu dari blok Semarang (Barat), Tuban (Timur) dan Ngawi (Selatan). …3)

SingkapanPergerakan ketiga blok tersebut mendorong dataran Kawengan menjadi dataran tinggi. Karena lapisan kerak bumi terdiri dari batuan, sementara gaya yang mendorong dari arah berlawanan sangat besar, akibatnya pada saat tertentu lapisan batuan disekitar puncak Kawengan menjadi patah, sementara pergerakan tektonik tersebut masih terus berlangsung. Sehingga tidak mengherankan jika selama perjalanan kita akan banyak melihat singkapan patahan kerak bumi yang tidak akan kita dapati di dataran tinggi pegunungan seperti di Puncak (Bogor).

EchinodermataBerdasarkan data stratigrafi yang ada di Laboratorium Geologi Pusdiklat Migas Cepu menunjukkan bahwa fosil, minyak dan batuan formasi dataran tinggi Kawengan terbentuk pada zaman Miosin era Senozoikum pada lingkungan pengendapan Neritik Bathyal dengan ketebalan formasi sekitar 600 meter. Artinya pada 23 – 5,3 juta tahun SM dataran tinggi Kawengan berada didasar laut pada kedalaman 200 sampai 50 meter. Hal ini ditunjukkan dari fosil duri foraminifera (hewan purba sejenis ikan yang hidup di laut dalam) dan batuan Napal orange yang banyak ditemukan di daerah Kawengan dan Ledok.

Pengamatan singkapanSedangkan fauna menyusui di darat yang sudah ada pada zaman Miosin adalah musang, badak, unta, kucing,  kuda dan binatang mamalia karnifora. Binatang mastodon untuk pertamakalinya hidup di zaman Miosin. …1). Pada zaman Miosin ini kera besar tak berekor seperti orang utan yang ada di Asia dan Eropa Selatan sudah ada sebelumnya, yaitu sejak zaman Pliosin (5,3 juta tahun yang lalu), masih pada era Senozoikum. …5)

Batuan KawenganBatuan kerak bumi yang tersingkap di Kawengan oleh masyarakat ditambang untuk dijadikan bahan bangunan. Mengingat  batuan  yang ditemukan kebanyakan berbentuk  amorf dan berpori maka mereka lebih banyak menggunakan batu itu sebagai bahan pondasi dengan alasan pondasi bangunan akan lebih kuat. Hal itu bisa dimengerti karena semen akan masuk kedalam pori-pori batuan sehingga akan mengikat lebih kuat. Sementara batuan tudung lebih banyak digunakan untuk menimbun bagian dalam alas bangunan setelah dikelilingi dengan pondasi.

Berburu Gambar

Kalitidu sunsetAwalnya saya tidak berniat untuk menulis artikel ini. Kalaupun kemudian saat itu saya menjadi ingin sekali untuk menulis karena mendapat tugas dari Pembantu Direktur I (Purek I) melalui senat untuk membuat video profil Sekolah Tinggi Energi dan Mineral untuk keperluan studi banding ke Akademi Angkatan Laut – Surabaya. Untuk keperluan itu maka saya mulai mengumpulkan gambar-gambar, baik berupa video maupun foto bareng teman-teman dari jurusan lain, yaitu Zuhri dari jurusan Kilang Pengolahan dan Suryo Cahyono dari jurusan Laboratorium Pengolahan. Selama melakukan aktivitas di Kawengan banyak menemui hal-hal yang menarik untuk diceritakan melalui tulisan ini.

Kalitidu sunsetPerburuan diawali dengan mengambil gambar matahari terbenam di lembah desa Kalitidu – Bojonegoro – yang berada 20 km sebelah timur Cepu (7°08’ LS, 111°44’ BT) pada tanggal 13 November 2005 (lihat peta di atas).  Untuk melengkapi stok gambar kami merencanakan mengambil gambar matahari terbit dari dataran tinggi Kawengan. Karena dari sisi timur puncak Kawengan kami bisa mengambil gambar hutan jati di daerah Senori (Tuban) yang berada dibawah dengan latar belakang matahari terbit.

Tanggal 19 November 2005 malam sebelum berangkat ke Kawengan kami mengamati cuaca nampaknya cukup cerah. Karena kami pikir cuaca cukup kondusif untuk melakukan perburuan gambar esoknya maka kami mulai menginventarisir peratan yang dibutuhkan dan mempersiapkan peralatan standar untuk berburu gambar yang kami punyai, yaitu Canon Digital Camera Pro dan Sony MiniDV Digital Camera, Kamera Digital Samsung Digimax 502 5MP + Memory Stick VisiPro 128MB, Tripod kamera dan soulmate saya ; survival kit knife “Explorer” untuk berjaga-jaga kalau kami harus melakukan apruk-aprukan untuk mencari sudut pengambilan gambar yang bagus.

Besok paginya setelah shalat subuh kami pukul 05:45 WIB tuturubun berangkat dari asrama bertiga ke Kawengan dengan mengendarai sepeda motor setelah sebelumnya ke ruang makan asrama untuk mengambil jatah sarapan. Kami bersukur ternyata menu sarapan pagi itu adalah beef burger dan telur rebus sehingga praktis untuk dibawa. Setelah membungkus sarapan kami agak banyak ke ransel tidak lupa kami mengisi termos air dengan susu panas.

Sebetulnya kami berangkat agak sangsi, karena sebelum subuh sempat turun gerimis. Seperti halnya di dataran tinggi lain, jalan menuju puncak berbelok-belok dengan kemiringan di beberapa tempat antara 30° sampai 45° sehingga kami lebih sering menggunakan gigi 2 dan 3. Kami bersukur karena jalan yang kami tempuh sudah dilapisi aspal sehingga kami tidak terlalu khawatir tergelincir karena licin setelah disiram gerimis sebelumnya.

Tunggu SunriseSetelah melakukan perjalanan selama 45 menit akhirnya kami sampai di puncak pas Kawengan. Suhu udara di puncak cukup dingin menyapu muka, saya perkirakan sekitar 5 – 10 °C. Kekhawatiran kami betul-betul terjadi, cuaca sangat tidak mendukung untuk melakukan pengambilan gambar. Langit tertutup awan kumulus dan lembah tertutup kabut sampai pada ketinggian kira-kira ± 500 mdpl. Meskipun begitu kami tetap mencari sudut pengambilan gambar dan memasang kamera pada tripod lalu mengarahkan kearah timur dalam keadaan siap bidik. Sambil menunggu kalau-kalau matahari muncul dari balik awan sesekali saya melakukan pemotretan beberapa objek yang cukup menarik, seperti barisan semut yang membawa embrionya di dahan pohon sirsak dan tetesan embun diatas ulam daun jati.

Setelah kami tunggu sampai pukul 07:30 WIB matahari belum juga keluar dari balik awan, sementara langit bertambah mendung, maka kami putuskan untuk membatalkan mengambil gambar matahari terbit. Karena meskipun nantinya matahari keluar juga warnanya tidak akan bagus berwarna merona merah jingga seperti gambar matahari terbenam yang kami ambil dari lembah desa Kalitidu. Meskipun begitu sebelum kami mengemasi peralatan kembali kami sempatkan mengambil gambar lembah yang masih terutup kabut.

Tempat Olah Raga

Pukul 08:00 WIB hujan mulai turun rintik-rintik memaksa kami untuk mengamankan peralatan elektronik beserta bungkusan silika gel kedalam kantong plastik untuk menghindari lembab yang dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan elektronik. Kami juga mencari  tempat yang kondusif untuk berteduh di rumah penduduk.

Paragliding - gantoleSambil menunggu hujan reda kami sarapan didalam tenda dengan diselingi obrolan ringan tentang olah raga apa yang cocok di Kawengan. Dari obrolan dengan berdasarkan kondisi alam yang ada dimana dibeberapa tempat tebingnya cukup keras dan terjal sementara angin yang bertiup laminer dan cukup kuatn meskipun dalam keadaan cuaca buruk, kami menyimpulkan bahwa Kawengan sangat kondusif untuk dijadikan tempat beberapa jenis olah raga jika mungkin suatu saat PON akan dilaksanakan di Jawa Tengah. Jenis olah raga yang kondusif dilakukan di dataran tinggi Kawengan adalah mountain bike, gantole, paragliding dan panjat tebing, atau bahkan paint-ball dengan objective mempertahankan / merebut sumur minyak…. wah, pasti lebih seru daripada main pc-game Black Hawk Down deh, soalnya almost reality…🙂

Sumur Minyak Tradisional

Sumur Minyak TradisionalKeunikan utama dari dataran tinggi Kawengan adalah masih banyak terdapat sumur minyak yang diproduksi secara tradisional oleh masyarakat sekitar dengan cara ditimba. Ya, ditimba, bukan dipompa atau di bor seperti yang kita ketahui selama ini, karena pada ketinggian 800 – 1000 meter minyak bumi di Kawengan dapat diambil pada kedalaman 100 – 150 meter, selain memang banyak juga sumur yang diproduksi secara modern. Artinya jika kita berada di kota Cepu dan kedalamam sumur minyak di Kawengan ditarik garis horizontal maka posisi reservoir sumur minyak Kawengan berada ± 650 meter di atas kepala kita.


Halaman terkait :

 


Pustaka :

 

  1. Orbis Publishing, Ltd., “New Encyclopedia of Science”, Miocene Epoch, London, 1980.
  2. PPTMGB Lemigas Jakarta, “Kamus Minyak”, Jakarta, 1999.
  3. Pusdiklat Migas Cepu, “100 Tahun Perminyakan di Cepu”, Cepu, 1999.
  4. Edgar Winston Spencer, 1977, “Introduction to the Structure of the Earth”, McGraw-Hill, Inc., New York.
  5. Microsoft Encarta 2006

Satu Tanggapan to “Kawengan Highland”

  1. Kawengan, menurut peta Anda, di Jawa Tengah. Benarkah ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: