NgélMu – aNgél sadurungé keteMu

Bahan Aditif : Usai Timbel, Besi Mengancam

Posted by EG Giwangkara S pada Selasa, 1 Mei 2007

Bahan Aditif
Usai Timbel, Besi Mengancam

Oleh YUNI IKAWATI

 Penduduk Indonesia mulai bisa bernapas lega ketika pemerintah pada 1 Juli 2006 lalu menghapus penggunaan timbel atau timah hitam—sebagai bahan aditif pada bensin—karena mengakibatkan gangguan kesehatan. Namun, dengan keluarnya rekomendasi pemerintah, baru-baru ini, untuk menggunakan Ferro atau besi, ancaman bagi kesehatan kembali muncul. Mengapa demikian?

Rekomendasi yang dikeluarkan Kementerian Negara Lingkungan Hidup kepada Pertamina pada 20 November 2006 untuk menggunakan octane booster berbasis “Ferro” setelah kebijakan penghapusan timbel memang ibarat keluar mulut harimau masuk mulut buaya.

Ketika timbel atau plumbum (Pb) digunakan sebagai aditif, maka dampak negatif dari paparan emisi Pb yang ditanggung masyarakat mulai dari penyakit anemia, kerusakan fungsi otak atau penurunan tingkat kecerdasan, hingga kematian.

Namun, jika Ferro jadi diintroduksi, emisi gas oksida besi bila terhirup manusia menimbulkan gangguan penyerapan oksigen dalam darah ditandai dengan gejala pusing dan mual. Terlebih lagi bila masuk dalam jumlah tinggi, unsur ferum (Fe) ini dapat merusak fungsi saraf.

Seperti dikemukakan Michael P Walsh dari International Council on Clean Transportation, penelitian pada tikus percobaan menunjukkan, inhalasi oksida besi selama 13 hari menyebabkan berkurangnya bobot tubuh tikus.

Selanjutnya terjadi degradasi sel pada organ pernapasan, mulai dari hidung hingga paru dan juga hati. “Unsur ini menyebabkan terbentuknya senyawa radikal yang bereaksi dengan DNA,” jelas Walsh. Dampak lanjut adalah terjadinya mutasi gen hingga menimbulkan kanker.

Dari sisi kinerja mesin sendiri, penggunaan ferosen juga berefek negatif hingga menimbulkan polusi dan kerugian finansial yang lebih besar.

Mesin kendaraan

Pada mesin kendaraan, jelas Ahmad Safrudin, Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbel, unsur besi menimbulkan korosi lebih cepat, terutama pada busi.

Sementara di ruang pembakaran akan lebih cepat timbul deposit atau kerak dibandingkan tanpa Fe. Hal ini mengakibatkan pembakaran tidak sempurna. Itu artinya emisi hidrokarbon (HC) dan karbon monoksida (CO) meningkat.

Bukan itu saja, pada kendaraan bermotor yang diproduksi dengan standar Euro 2—sesuai Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 141 Tahun 2003 tentang ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor tipe baru—disyaratkan larangan penggunaan bensin berunsur logam.

Pemakaian bensin dengan octane booster berbahan metal seperti Pb, Fe, dan mangan (Mn) akan mengganggu proses oksidasi pada katalitik konverter sebagai pereduksi gas buang. Padahal, katalis ini dapat mereduksi emisi HC, CO, dan nitrogen oksida (NOx) hingga 90 persen.

Rusaknya alat tersebut membuat gas lepas bebas, hingga kembali meningkatkan polusi udara, yang selama ini berusaha ditekan.

Pasalnya, pencemaran udara dari sumber bergerak atau kendaraan bermotor—khususnya di perkotaan—sudah mencapai 70 persen dari total emisi gas polutan (meliputi Pb, HC, CO, NOx, dan sulfur oksida atau SOx, dan partikel debu/PM). Semua gas hasil pembakaran itu berdampak negatif bagi kesehatan hingga mengakibatkan kematian.

Akibat penggunaan Ferosen belum berhenti sampai di situ. Kelanjutannya adalah merusak keseluruhan sistem pada kendaraan bermotor yang telah diprogram secara otomatis.

“Bila katalitik konverter tidak berfungsi, mobil akan otomatis melambat hingga 15 kilometer per jam,” urai Ahmad. Itu artinya kendaraan harus masuk bengkel, yang berkonsekuensi biaya perbaikan dan penggantian yang mahal.

Melihat semua dampak negatif penggunaan Ferro tersebut, rekomendasi Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Ahmad berkeyakinan, akan menjegal dan menggagalkan Program Langit Biru yang dicanangkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup sendiri pada tahun 1993 untuk mengatasi pencemaran udara yang sudah sangat buruk. Rekomendasi itu pun dinilainya sebagai poros halang penerapan SK Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 141 Tahun 2003.

Pengukuran yang dilakukan Kementerian Negara Lingkungan Hidup tahun 2002 saja menunjukkan kualitas udara di kota besar dalam kategori buruk. Hari “baik” hanya 6-16 persen dalam setahun. Dan dampaknya, menurut Bank Dunia, pada tahun 1994 antara lain berupa 1.200 kasus kematian prematur dan 32 juta kasus penyakit pernapasan di Jakarta.

Bahan aditif

Tidak dapat dimungkiri, kebutuhan aditif sebagai pendongkrak angka oktan yang dapat mempercepat laju kendaraan bermotor memang ada.

Namun, sebelum penerapannya, tegas Ahmad, perlu dilakukan kajian risiko terlebih dulu seperti yang diamanatkan Undang-Undang No 23 Tahun 1997. Karena bagaimanapun, penggunaan bahan aditif berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan manusia.

Di antara beberapa alternatif ramah lingkungan yang dapat dipertimbangkan dan dikaji lebih lanjut, menurutnya, adalah bioetanol dan aditif pengontrol deposit (DC).

Etanol tidak menimbulkan emisi gas yang beracun dan harganya jauh lebih murah karena menggunakan bahan baku lokal.

Penggunaan bioetanol juga akan menolong petani karena akan meningkatkan kebutuhan bahan pati sebagai bahan baku etanol seperti ketela pohon atau singkong.

Bioetanol dari singkong, jelas Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Unggul Priyanto, telah berhasil diuji coba produksinya di sentra perkebunan singkong di Lampung sejak tahun 1982. Selanjutnya, penerapannya di kendaraan bermotor dicoba secara intensif sejak tahun 2005.

Sementara itu, penggunaan aditif DC di negara maju sudah berlangsung lama. Aditif DC yang mengandung PEA (poly ether amine) tidak mengandung deposit di ruang bakar, dapat mengurangi emisi gas nitrogen, dan tidak menimbulkan racun dioksin.

Belakangan juga diperkenalkan viscon, polimer tingkat tinggi yang dapat mengurangi konsumsi bensin hingga belasan persen dan penurunan emisi NOx lebih dari 40 persen.

Beberapa alternatif tersebut, meski dilaporkan memiliki beberapa keunggulan dan keuntungan, tentu saja tetap memerlukan pengkajian dari sisi risiko dampaknya dan pendanaan dan aspek teknis lainnya sebelum ditetapkan untuk diterapkan di Indonesia.

Sumber :
KOMPAS, Senin 30 April 2007
http://kompas.com/kompas-cetak/0704/30/ilpeng/3489757.htm

6 Tanggapan to “Bahan Aditif : Usai Timbel, Besi Mengancam”

  1. ABe said

    sek asek..sek asek..ternyata ada di sini🙂

  2. […] Selebihnya, silakan dilihat di sini. […]

  3. ABe said

    Thanks a lot!!!
    Sebenernya ada tulisanku yang tertunda di http://bramono.wordpress.com/2007/05/29/ferrocene-klh-program-langit-biru/

  4. numan said

    sangat membantu tugas saya!tapi saya mau bertanya bagaimana pengolahan ethanol pada mesin itu sendiri???

  5. kiwiwucu said

    Gw nanya timbel tuh apa, tw-twnnya malah PB.. -_-

  6. sayaKECEbadai! said

    Timbel tuh bknnya NASI TIMBEL ya mash??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: