NgélMu – aNgél sadurungé keteMu

Archive for the ‘Bahan Bakar Nabati’ Category

Biodisel Lebih Ramah Lingkungan ?

Posted by EG Giwangkara S pada Minggu, 18 Desember 2011

Sebelumnya punten kalau tulisan saya ini terasa skeptis terhadap biofuel, khususnya biodisel yang menggunakan bahan dasar dari kelapa sawit, soale saya termasuk yang tidak setuju pembantaian hutan untuk alasan apapun.

Sejak awal-awal isu pemanasan global diluncurkan banyak orang yang mengalami eforia tentang pencarian bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dari bahan bakar minyak yang divonis jadi salah satu penyebab pemanasan global. Eforia itu mengantarkan sebagian orang berfikiran bahwa penggunaan bahan bakar nabati (biofuel) adalah salah satu solusi untuk mengatasi pemanasan global karena dianggap lebih ramah lingkungan.

Well… jika mengacu kepada reaksi dasar pada proses pembakaran dimana bahan bakar – darimanapun sumbernya, baik bahan bakar minyak maupun bahan bakar nabati – keduanya tetap mengandung unsur karbon ( C ) dan hidrogen ( H ), yang juka mengalami proses pembakaran dengan oksigen ( O ) maka reaksi dasarnya adalah sbb :

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Posted in Artikel Umum, Bahan Bakar Nabati, Minyak Bumi | 10 Comments »

Bio Ethanol, Sebagai Bahan Bakar Kendaraan dan Pengendaranya

Posted by EG Giwangkara S pada Senin, 16 Oktober 2006

Bioethanol AdvertisingBulan Oktober tahun lalu sebuah berita di BBC menyebutkan tentang ujicoba penggunaan Bioethanol sebagai alternatif pengganti bahan bakar kendaraan (BBC Newsnight : Bahan Bakar Kereta Dari Sapi). Ujicoba ini dilakukan di kawasan selatan Inggris dan baru melibatkan beberapa puluh kendaraan saja.

Di Indonesia sendiri pemasaran Bioetanol telah dilakukan oleh Pertamina dengan total pemasaran Bioetanol/hari sampai pertengahan Agustus 2006 sekitar 600.000 liter/hari untuk Bio Ethanol (E5), meskipun masih terbatas di Kota Malang. Pemasaran Bioetanol ini agak terhambat karena terbatasnya pasokan ethanol, sehingga membuat Pertamina belum bisa secara luas memasarkannya.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Artikel Umum, Bahan Bakar Nabati | 41 Comments »

Singkong dan Kelapa Sawit Sebagai Energi Alternatif

Posted by EG Giwangkara S pada Sabtu, 29 Juli 2006

Singkong / Ubi Kayu (Cassava)Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman (2005)menegaskan, kemajuan teknologi kini mampu mengubah singkong dan kelapa sawit menjadi energi alternatif dalam mengatasi krisis bahan bakar minyak (BBM).
   
“Singkong dapat diolah menjadi bioetanol dan kelapa sawit menjadi biodiesel yang bisa dimanfaatkan dengan mencampur sepuluh persen dari keempat jenis BBM,” kata Kusmayanto Kadiman kepada wartawan di Sanur, Bali, Rabu (13/7/2005).

Sebelum membuka Pertemuan Forum Kelautan Indonesia (The Indonesia Ocean Forum 2005 and the 13th PAMS/JECSS Workshop), ia mengemukakan, pencampuran 10 persen BBM dengan bioetanol dan biodiesel sangat dimungkinkan, sesuai ketentuan yang ditetapkan internasional.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Artikel Umum, Bahan Bakar Nabati | 64 Comments »

Jarak Pagar Lebih Fleksibel dari Kelapa Sawit

Posted by EG Giwangkara S pada Sabtu, 29 Juli 2006

Buah Jarak (Jathropa curcas)Jarak pagar (Jathropa curcas) menjadi sangat populer ketika menyoal energi alternatif ramah lingkungan. Biji-bijinya mampu menghasilkan minyak campuran untuk solar. Selain dari jarak pagar, pada dasarnya minyak yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan dapat dijadikan bahan campuran solar, misalnya kelapa sawit atau kedelai.
 
Dari percobaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), campuran solar dan minyak nabati (biodiesel) memiliki nilai cetane (oktan pada bensin) lebih tinggi daripada solar murni. Solar yang dicampur dengan minyak nabati menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna daripada solar murni sehingga emisi lebih aman bagi lingkungan.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Artikel Umum, Bahan Bakar Nabati | 23 Comments »

Rahasia Biodiesel, Solar Masa Depan

Posted by EG Giwangkara S pada Jumat, 28 Juli 2006

Pabrik pembuat Bio Diesel kapasitas 1,5 ton per hari buatan BPPTSejak awal Rudolf Diesel sang penemu mesin diesel memang memperkenalkan mesin diesel yang berbahan bakar minyak kacang. Ia mendemonstrasikan mesin tersebut dalam World’s Exhibition di Paris, 1900. Dalam perkembangannya, bahan bakar solar dari turunan minyak bumi lebih banyak digunakan.

Dengan harga yang murah, kinerja, dan subsidi pemerintah, bahan bakar dari minyak bumi menjadi pilihan selama bertahun-tahun. Namun, ketergantungan impor dan kapasitas produksi dalam negeri yang tidak mampu mencukupi kebutuhan menuntut dikembangkannya bahan bakar alternatif yang lebih murah dan tersedia di alam.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Artikel Umum, Bahan Bakar Nabati | 15 Comments »